Kenapa Lutut Bunyi Krek Tapi Tidak Sakit? Ini yang Terjadi
Lutut bunyi krek tanpa nyeri umumnya merupakan kondisi yang normal dan dapat disebabkan oleh pecahnya gelembung gas di dalam cairan sendi, pergeseran tendon atau ligamen, perubahan permukaan tulang rawan akibat penuaan, maupun ketidakseimbangan otot. Kondisi ini biasanya tidak memerlukan pengobatan selama tidak disertai nyeri, bengkak, atau gangguan gerak.
Lutut bunyi krek tapi tidak sakit sering membuat orang langsung berpikir sendinya bermasalah. Apakah Drimers pernah mengalaminya?
Saat jongkok atau naik tangga terdengar bunyi "krek" atau "klik". Atau setiap berdiri dari kursi, lutut selalu berbunyi, tapi sama sekali tidak nyeri maupun bengkak. Kalau seperti itu, apakah pertanda bahaya?
Penyebab Lutut Bunyi Krek Tapi Tidak Sakit
Penelitian dalam jurnal Clinics in Orthopaedic Surgery menjelaskan bahwa bunyi lutut tanpa sakit atau bengkak cukup sering terjadi dan tergolong normal. Umumnya pun tidak memerlukan pengobatan khusus. Hal yang sama diungkapkan pula oleh David McAllister, MD, Direktur Program Kedokteran Olahraga UCLA.
Meski begitu, Drimers perlu tahu kenapa lutut berbunyi, mengenali seperti apa bunyi yang masih wajar, serta kapan sebaiknya waspada terhadap gangguan sendi dan otot. Berikut penjelasannya.
1. Gelembung Gas di Dalam Sendi Pecah
Di dalam lutut terdapat cairan pelumas atau cairan sinovial. Cairan ini mengandung gas yang bisa membentuk gelembung kecil.
Saat Drimers menekuk atau meluruskan lutut, tekanan di dalam sendi berubah. Akibatnya, gelembung tersebut pecah dan menimbulkan bunyi "krek" atau "pop". Mirip seperti bunyi saat jari tangan diregangkan.
Nah, selama tidak disertai nyeri, bengkak, atau keterbatasan gerak, lutut bunyi saat digerakkan umumnya tidak berbahaya.
2. Ligamen atau Tendon Bergeser
Saat lutut bergerak, tendon dan ligamen ikut berpindah mengikuti arah gerakan. Pada sebagian orang, jaringan ini sesekali bergeser melewati tonjolan tulang. Pergeseran tersebut menghasilkan bunyi kecil yang terasa seperti ada sesuatu yang "meloncat" di sekitar lutut.
Biasanya bunyi lebih mudah muncul saat berdiri dari posisi duduk, naik tangga, atau melakukan squat.
3. Permukaan Tulang Rawan Mulai Berubah Seiring Bertambahnya Usia
Seiring bertambahnya usia, permukaan tulang rawan tidak selalu tetap licin.
Ada bagian yang menjadi sedikit lebih kasar sehingga ketika lutut bergerak, permukaan tersebut saling bergesekan dan menghasilkan bunyi.
Pada tahap awal, perubahan ini sering kali belum menimbulkan nyeri lutut ataupun pembengkakan. Karena itu, seseorang bisa mendengar bunyi krek selama bertahun-tahun tanpa keluhan lain.
Tapi, jika mulai muncul nyeri, kaku, atau sulit bergerak, diperlukan pemeriksaan apakah terjadi kerusakan sendi atau gangguan lain.
4. Ketidakseimbangan Otot
Menariknya, sumber bunyi tidak selalu berasal dari lutut, lho. Cara tubuh bergerak juga bisa ikut berpengaruh.
Misalnya, otot paha yang masih kaku, otot di sekitar pinggul yang kurang kuat, atau kebiasaan bergerak tertentu membuat lutut menerima beban dengan cara yang berbeda. Akibatnya, saat ditekuk atau diluruskan, lutut bisa lebih mudah mengeluarkan bunyi meski sebenarnya tidak terasa sakit.
Terpenting, Drimers mampu mengenali bunyi yang disertai gejala atau nyeri lain. Jadi, yang perlu diperhatikan bukan hanya bunyinya, ya, tapi juga rasa yang ikut menyertainya.
Baca juga: Sakit Pinggang Menjalar ke Bokong & Kaki, Pertanda Apa?
Kapan Harus ke Dokter?
Meski lutut yang berbunyi krek tidak selalu membutuhkan pemeriksaan medis, sebaiknya jangan ditunda bila disertai kondisi berikut:
- Bunyi mulai diikuti nyeri yang menetap
- Lutut tampak bengkak atau terasa hangat
- Lutut terasa mengunci saat ditekuk atau diluruskan
- Lutut sering terasa goyah atau seperti mau lepas
- Bunyi muncul setelah jatuh atau cedera olahraga
- Aktivitas seperti berjalan, naik tangga, atau jongkok mulai terasa sulit.
Keluhan-keluhan tersebut bisa mengarah pada:
- Cedera meniskus
- Gangguan tulang rawan
- Cedera ligamen
- Osteoarthritis.
Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan lebih lanjut agar penyebabnya diketahui secara pasti.
Di DRI Clinic, pemeriksaan diawali dengan assessment menyeluruh. Dokter akan menanyakan:
- Riwayat keluhan
- Memeriksa stabilitas sendi
- Menilai kekuatan otot
- Memeriksa pola berjalan
- Melihat gerakan yang memicu bunyi.
Bila diperlukan, pemeriksaan dapat dilengkapi dengan USG muskuloskeletal atau pencitraan lain untuk membantu memastikan diagnosis.
Dengan begitu, penanganan yang diberikan benar-benar sesuai penyebabnya, bukan sekadar berdasarkan lokasi bunyi.
FAQ Seputar Lutut Bunyi Krek
1. Apakah bunyi krek pada lutut bisa sembuh?
Kalau penyebabnya berupa gelembung gas atau pergeseran tendon yang normal, bunyi tersebut memang bisa tetap muncul dan tidak perlu dihilangkan.
Tapi, jika bunyi berasal dari gangguan pola gerak, kelemahan otot, atau cedera tertentu, keluhan sering kali berkurang setelah penyebab utamanya ditangani.
2. Kenapa lutut bunyi krek-krek saat jalan?
Saat berjalan, lutut menerima beban tubuh secara berulang. Perubahan tekanan di dalam sendi, pergerakan tendon, atau permukaan tulang rawan yang bergesekan dapat memunculkan bunyi. Kalau hanya berbunyi tanpa nyeri, biasanya tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
3. Lutut bunyi kurang vitamin apa?
Belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa lutut berbunyi disebabkan kekurangan vitamin tertentu. Karena itu, jangan buru-buru membeli suplemen hanya karena lutut berbunyi. Cari tahu dulu penyebabnya agar penanganannya tepat, ya Drimers.
4. Apa obat lutut bunyi krek?
Tidak ada obat khusus untuk menghilangkan bunyi lutut yang masih fisiologis.
Jika bunyi muncul akibat cedera atau penyakit sendi, pengobatan akan disesuaikan dengan diagnosis. Bisa berupa latihan, fisioterapi, obat analgesik atau kortikosteroid, atau tindakan medis tertentu bila memang diperlukan.
5. Bagaimana cara menghilangkan bunyi pada lutut?
Target utamanya bukan menghilangkan bunyi, melainkan memastikan penyebabnya, ya Drimers.
Kalau bunyi muncul karena pola gerak atau otot yang kurang seimbang, dokter dapat menyarankan latihan untuk meningkatkan stabilitas, fleksibilitas, dan kekuatan otot di sekitar lutut.
Sebaliknya, bila bunyi ternyata berasal dari cedera atau kerusakan sendi, penanganannya tentu akan berbeda. Itulah mengapa assessment menjadi langkah pertama sebelum menentukan terapi.
Referensi:
- Clinics in Orthopaedic Surgery. Noise around the Knee. Diakses pada 14 Juli 2026.
- VerywellHealth. Why Does My Knee Keep Popping?. Diakses pada 14 Juli 2026.
- WebMD. What Is Your Knee Telling You?. Diakses pada 14 Juli 2026.
