Bagaimana Relaksasi Otot Membantu Pemulihan Saraf Kejepit?
Ketegangan otot sering menyertai saraf kejepit dan dapat memperparah nyeri serta membatasi gerak jika tidak ditangani. Menurut dr. Irca Ahyar, Sp.N., DFIDN, relaksasi otot membantu mengurangi hambatan mekanis, melancarkan aliran darah, dan membuat terapi berjalan lebih optimal. Namun, karena penyebab saraf kejepit berbeda pada setiap pasien, assessment dan diagnosis tetap menjadi langkah awal sebelum menentukan metode terapi yang paling sesuai.
Saat mengalami saraf kejepit, banyak orang langsung fokus pada saraf yang mengalami tekanan. Padahal, ada otot di sekitar area nyeri yang juga ikut menegang.
Spasme atau ketegangan otot dapat meningkatkan rasa nyeri dan menurunkan fungsi gerak. Nyeri tersebut sebenarnya merupakan respons alami tubuh untuk melindungi bagian yang cedera.
Dokter Spesialis Neurologi, dr. Irca Ahyar, Sp.N., DFIDN, menjelaskan bahwa ketegangan otot merupakan komplikasi yang kerap melekat pada pasien saraf kejepit.
“Nah, kalau berlangsung terus-menerus tanpa di-release, kondisi ini (otot yang tegang) akan memperberat keluhan pasien,” jelas dr. Irca dalam workshop Comprehensive Approach to Low Back Pain: Bridging Clinical Insight and Rehabilitation Strategies di Jakarta, Minggu (19/7/2026).
Lalu, apa yang terjadi jika terapi tetap dipaksakan dalam keadaan otot masih tegang?
Efek Relaksasi Otot pada Terapi
Memaksakan latihan gerak pada otot yang sedang kaku dapat memicu cedera baru.Otot yang tegang akan menarik sendi di sekitarnya sehingga ruang geraknya menyempit. Ruang yang sempit ini membuat saraf yang sudah terjepit makin tertekan dan mudah teriritasi saat digerakkan, sehingga peradangan pun makin parah.
Sebaliknya, ketika terapi dilakukan dalam kondisi otot yang sudah release (rileks), hambatan mekanis pada sendi otomatis akan berkurang. Otot yang lentur akan membuka kembali pembuluh darah yang sebelumnya terhimpit kaku.
Aliran darah yang lancar ini membawa pasokan oksigen untuk mempercepat regenerasi jaringan saraf yang meradang. Hasilnya, pasien bisa menjalani latihan penguatan dengan postur yang baik tanpa terkendala nyeri.
Penanganan Tiap Pasien Tetap Dipersonalisasi
Meski demikian, dr. Irca mengingatkan bahwa relaksasi otot bukan berarti solusi untuk semua kasus saraf kejepit.
“Penyebab tiap pasien kan, beda-beda. Ada yang dipicu gangguan otot, bantalan tulang belakang, atau keterlibatan saraf secara langsung. Karena itu, assessment dan diagnosis tetap jadi langkah pertama sebelum terapi. Saya suka sekali anamnesa (wawancara keluhan pasien) mendalam. Karena dari sana, jadi tahu betul apa yang terjadi pada pasien, gimana riwayatnya, ada keluhan penyerta apa, udah berapa lama,” jelas dr. Irca lebih lanjut.
Baca Juga: 80% Nyeri Punggung Bawah Bisa Membaik dalam 6 Minggu
Metode Relaksasi Otot dari Dalam
Muscle release dapat dilakukan melalui terapi fisik, dry needling, atau spinal decompression.
Berbeda dengan akupuntur, teknik dry needling menggunakan jarum tipis yang ditujukan langsung ke trigger point atau otot yang tegang. Jarum yang digerakkan akan merangsang serat-serat otot terdalam yang kaku, sekaligus melancarkan aliran darah ke area tersebut.
Meski terdapat beberapa pilihan relaksasi otot, namun pemilihannya tetap disesuaikan dengan titik nyeri dan diagnosa pasien. Sebab, pendekatan yang tepat tidak hanya membantu mengurangi nyeri, tapi juga mendukung proses peningkatan performa tubuh dan mengurangi risiko nyeri kambuhan di kemudian hari.
