Prosedur Foto Rontgen yang Perlu Kamu Ketahui
Prosedur foto rontgen meliputi tahap persiapan, pengambilan gambar sinar-X, hingga pembacaan hasil oleh dokter spesialis radiologi. Pemeriksaan ini berlangsung cepat, tidak menimbulkan rasa sakit, minim persiapan khusus, dan membantu dokter memperoleh gambaran kondisi tubuh sebagai dasar penentuan diagnosis dan terapi.
Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Mesha Syafitra, AIFO-K, General Practitioner DRI Clinic.
Seperti apa pelaksanaan foto rontgen? Apakah sakit? Apakah aman? Dan apa saja yang harus dipersiapkan?
Tidak sedikit orang yang merasa khawatir saat dokter menyarankan pemeriksaan rontgen. Ada yang takut karena paparan radiasi, ada juga yang cemas membayangkan hasil pemeriksaannya.
Drimers, rontgen merupakan pemeriksaan menggunakan sinar-X yang umum dilakukan untuk mengetahui secara lebih jelas kondisi bagian dalam tubuh, mulai dari tulang, sendi, jantung, hingga beberapa organ tertentu. Melalui pemeriksaan ini, dokter dapat menetapkan diagnosis dan penanganan yang sesuai untuk pasien.
Pemeriksaan foto rontgen sudah digunakan sejak tahun 1895. Menurut U.S. Food & Drug Administration, meski menggunakan radiasi, paparan sinar-X pada rontgen sangat kecil. Jadi, secara umum aman jika dilakukan sesuai indikasi medis dan pengawasan radiografer dan dokter spesialis radiologi.
Nah, supaya Drimers punya gambaran, simak penjelasan prosedur foto rontgen dari awal hingga akhir berikut ini.
Kondisi yang Membutuhkan Rontgen
Rontgen tidak hanya untuk melihat patah tulang, lho. Pemeriksaan ini juga dapat digunakan untuk mengevaluasi berbagai kondisi kesehatan lainnya, seperti:
1. Patah Tulang dan Cedera Sendi
Ini merupakan alasan paling umum seseorang menjalani rontgen. Saat terjadi benturan, jatuh, kecelakaan, atau cedera olahraga, dokter perlu memastikan apakah terdapat retakan, patah tulang, atau pergeseran posisi sendi.
2. Nyeri Tulang dan Sendi yang Berlangsung Lama
Jika tulang kaki atau lengan kamu sakit dan tak kunjung sembuh, pemeriksaan rontgen dapat dilakukan untuk membantu deteksi menyeluruh.
Melalui rontgen, dokter dapat melihat perubahan bentuk tulang, penyempitan celah sendi, hingga tanda-tanda osteoarthritis atau osteoporosis.
3. Kelainan Tulang Belakang
Keluhan seperti punggung membungkuk, postur tubuh tidak simetris, atau dugaan skoliosis dapat dideteksi juga menggunakan rontgen. Pemeriksaan ini membantu dokter menilai struktur dan posisi tulang belakang secara lebih jelas.
4. Gangguan pada Paru-Paru
Rontgen dada atau rontgen thorax merupakan salah satu pemeriksaan yang paling sering dilakukan untuk mengevaluasi kondisi paru-paru dan rongga dada.
Pemeriksaan ini dapat membantu mendeteksi pneumonia, infeksi paru, pembesaran jantung, hingga berbagai kelainan lain yang memengaruhi organ di dalam rongga dada.
5. Pemantauan Penyakit dan Pengobatan
Pada beberapa kondisi seperti TBC dan pasca-operasi pemasangan Pen atau ORIF, pasien biasanya akan diminta rontgen secara berkala. Tujuannya agar dokter dapat mengevaluasi hasil pengobatan yang dijalani pasien.
6. Menemukan Benda Asing di Dalam Tubuh
Rontgen juga dapat membantu menemukan benda asing yang tidak sengaja tertelan atau masuk ke dalam tubuh. Misalnya, anak kecil yang tanpa sengaja menelan mainan atau melihat posisi duri ikan nyangkut di tenggorokan.
Syarat Menjalani Rontgen
Umumnya, foto rontgen, baik rontgen tulang, sendi, maupun dada tidak memerlukan persiapan rumit. Namun, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan dilakukan:
Memberitahukan dokter jika sedang hamil atau memiliki kemungkinan hamil.
Menginformasikan riwayat pemasangan implan logam, alat pacu jantung, atau perangkat medis tertentu.
Melepaskan perhiasan, jam tangan, kacamata, ikat pinggang, dan aksesori berbahan logam.
Menggunakan pakaian yang nyaman dan mudah dilepas bila diperlukan.
Mengikuti instruksi khusus dari dokter jika pemeriksaan memerlukan zat kontras.
Berpuasa terlebih dahulu apabila diminta oleh dokter untuk jenis pemeriksaan tertentu.
Prosedur Pemeriksaan Rontgen
Pemeriksaan rontgen itu sebentar kok, Drimers. Proses pengambilan foto sinar-X sendiri hanya berlangsung 1 detik. Ditambah dengan persiapan dan pasca-rontgen, prosesnya tidak lebih 15 menit.
Secara umum, proses rontgen terbagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Persiapan Sebelum Rontgen
Sebelum mulai, petugas radiologi akan melakukan verifikasi data pasien dan menjelaskan prosedur rontgen.
Pasien biasanya diminta melepas benda-benda berbahan logam yang dapat mengganggu hasil pencitraan, lalu berganti pakaian dengan baju khusus.
Petugas juga akan menanyakan riwayat operasi dengan pemasangan pen, platina, alat pacu jantung, atau implan lainnya. Menurut U.S. Food & Drug Administration, konfirmasi ini penting untuk meminimalisir efek samping pasien pada alat bantu tersebut karena paparan radiasi.
2. Proses Pelaksanaan Rontgen
Selanjutnyai, pasien akan diarahkan menuju ruang pemeriksaan. Pasien dapat diminta berdiri, duduk, atau berbaring tergantung kebutuhan pemeriksaan. Posisi tubuh akan disesuaikan dengan area yang akan diperiksa.
Misalnya pada rontgen dada atau rontgen thorax, pasien umumnya diminta berdiri menghadap alat pemeriksaan. Sementara pada rontgen lutut atau tulang belakang, posisi yang digunakan dapat berbeda.
Bagian tubuh yang tidak diperiksa akan dilindungi menggunakan pelindung khusus untuk meminimalkan paparan radiasi.
Selanjutnya, alat rontgen akan diarahkan ke area yang diperiksa. Saat gambar diambil, pasien diminta untuk tetap diam dan terkadang menahan napas selama beberapa detik. Sebagai catatan, gerakan kecil dapat membuat hasil foto rontgen menjadi kabur.
Apakah panas atau sakit? Tenang, Drimers tidak akan merasakan apa pun saat pemotretan sinar-X. Kecuali jika rontgen karena cedera atau patah tulang, mungkin akan muncul rasa nyeri saat harus mengubah posisi tubuh.
3. Setelah Rontgen
Setelah pemotretan sinar-X selesai, pasien dapat kembali mengenakan pakaian pribadi dan melanjutkan aktivitas seperti biasa.
Dokter spesialis radiologi akan mempelajari hasil foto rontgen. Setelah itu, kamu bisa mendapat laporan atau hasil temuan dari pemeriksaan rontgen. Hasilnya bisa kamu terima 15 menit hingga 1x24 jam, tergantung jenis pemeriksaan dan jadwal dokter.
Selanjutnya, laporan hasil foto rontgen akan digunakan oleh dokter spesialis untuk menentukan diagnosis dan penanganan selanjutnya.
Pada kondisi tertentu, dokter mungkin menyarankan pemeriksaan tambahan seperti USG, CT scan, MRI, atau pemeriksaan laboratorium jika diperlukan informasi yang lebih detail.
Apabila pemeriksaan menggunakan zat kontras, pasien biasanya dianjurkan untuk memperbanyak minum air putih guna membantu proses pembuangan zat tersebut dari dalam tubuh.
Layanan Rontgen DRI Clinic
DRI Clinic menyediakan layanan rontgen untuk membantu mengevaluasi berbagai keluhan pada sistem gerak, khususnya yang berkaitan dengan tulang, sendi, dan otot.
Pemeriksaan dilakukan bersama dokter spesialis radiologi, yaitu dr. Mohammad Reynalzi Yugo, Sp. Rad., yang berpengalaman dalam interpretasi pencitraan muskuloskeletal.
DRI Clinic adalah klinik spesialis saraf di Bintaro, Tangerang Selatan yang berfokus pada penanganan nyeri dan gangguan gerak secara menyeluruh. Kami bekerja dengan pendekatan Neuromed-First bersama Spesialis Saraf (Sp.N), Rehabilitasi Medis (Sp.KFR), Kedokteran Olahraga (Sp.KO), dan Spesialis Radiologi (Sp.Rad) yang menilai saraf, otot, dan pola gerak untuk menemukan dan menangani akar masalah setiap pasien. Konsultasikan kondisimu untuk mendapat perawatan terbaik demi #SatuSarafSehat dan hari yang selalu produktif.
FAQ Seputar Prosedur Foto Rontgen
1. Kalau mau rontgen harus ke dokter apa?
Konsultasi terlebih dahulu dengan dokter umum atau dokter spesialis sesuai keluhan yang dialami. Lalu, dokter akan merekomendasikan pemeriksaan rontgen jika diperlukan dan hasilnya akan dibaca oleh dokter spesialis radiologi.
2. Apa saja persyaratan untuk rontgen?
Tidak ada persyaratan khusus. Kamu hanya perlu mengikuti instruksi dokter, melepas benda berbahan logam, dan memberi tahu petugas jika sedang hamil atau memiliki implan logam di dalam tubuh.
3. Apakah rontgen bisa dilakukan tanpa rujukan?
Beberapa fasilitas kesehatan bisa rontgen tanpa rujukan. Namun, meski tanpa rujukan dari fasilitas kesehatan tingkat pertama, kamu tetap perlu konsultasi dengan dokter untuk mengetahui area mana saja yang perlu diperiksa.
4. Apakah kalau dirontgen harus membuka baju?
Tidak selalu, tergantung bagian tubuh mana yang diperiksa. Pada rontgen dada (thorax), Drimers biasanya diminta melepas pakaian atas dan aksesori di area leher, lalu mengenakan jubah rontgen.
Pada rontgen tulang belakang, Drimers hanya perlu melepas pakaian atas atau bawah yang berada di area tulang belakang. Lalu, saat rontgen bahu, lengan, atau kaki, cukup lepas pakaian yang menutupi lengan atau kaki yang bermasalah.
5. Apakah ibu hamil boleh rontgen?
Tergantung kondisi. Umumnya, dokter akan mempertimbangkan alternatif pemeriksaan lain yang tidak menggunakan radiasi, terutama jika area yang diperiksa berada dekat perut atau panggul.
Siapa saja yang tidak dianjurkan rontgen?
Ada beberapa golongan yang sebaiknya menghindari foto rontgen atau membutuhkan pertimbangan khusus, seperti dilansir dari situs Environment, Health & Safety University of Michigan, yaitu:
Ibu hamil (terutama rontgen area perut dan panggul).
Anak-anak atau orang yang pernah menjalani prosedur medis dengan bahan kontras.
Orang yang memiliki Riwayat alergi bahan kontras.
Orang tanpa indikasi medis atau arahan jelas dari dokter.
Referensi:
Environment, Health & Safety University of Michigan. X-Rays. Diakses pada 9 Juni 2026.
U.S. Food & Drug Administration. Medical X-ray Imaging. Diakses pada 9 Juni 2026.
U.S. Food & Drug Administration. Preventing Damage to Implantable Electronic Heart Devices During CT Scans. Diakses pada 9 Juni 2026.
