USG untuk Apa? Ini Kegunaan dan Prosesnya
USG adalah pemeriksaan medis menggunakan gelombang suara tanpa radiasi untuk melihat kondisi organ dan jaringan tubuh secara langsung. Tidak hanya untuk kehamilan, USG juga digunakan untuk deteksi cedera otot dan saraf, mencari penyebab nyeri organ dalam, mengevaluasi benjolan, hingga memantau kesehatan jantung dan pembuluh darah. Karena aman, cepat, dan minim efek samping, USG menjadi salah satu pemeriksaan penunjang yang sering diandalkan dalam dunia medis.
Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Mesha Syafitra, AIFO-K, General Practitioner DRI Clinic.
Di beberapa kondisi seperti cedera otot atau peradangan saraf, USG dilakukan sebagai pemeriksaan penunjang untuk mengidentifikasi penyebab keluhan agar mendapat detail kondisi pasien secara lebih jelas tanpa membuat sayatan.
Masih mengira USG hanya untuk memeriksa tumbuh kembang janin dalam kandungan? Banyak orang mengasosiasikan USG dengan kehamilan memang. Padahal, kegunaan USG di dunia medis sangat luas, lho.
Prosedur medis ini juga tidak menggunakan radiasi, aman dilakukan berulang-ulang, dan minim efek samping. Biayanya pun lebih murah dibandingkan prosedur pemeriksaan penunjang lain seperti CT scan atau MRI. Mulai dari Rp50.000, tergantung fasilitas dan jenis USG yang diambil.
Lalu, pada kondisi apa saja USG diperlukan? Yuk, simak penjelasan lengkapnya di bawah ini.
Apa Itu USG?
USG atau ultrasonografi adalah metode pemindaian medis yang memanfaatkan gelombang suara frekuensi tinggi untuk menangkap gambar jaringan dan organ di dalam tubuh secara real-time.
Gelombang suara ditembakkan ke dalam tubuh melalui alat genggam kecil yang disebut probe atau transduser. Gelombang memantul kembali setelah mengenai organ atau jaringan. Pantulan itulah yang diolah oleh komputer menjadi gambar bergerak di layar.
Berbeda dengan rontgen (X-Ray) atau CT scan yang mengandalkan radiasi, USG sama sekali tidak menggunakan radiasi. Itulah mengapa prosedur ini sangat aman, bahkan untuk kelompok paling sensitif seperti bayi dan ibu hamil.
Kegunaan USG dalam Pemeriksaan Medis
USG merupakan alat deteksi medis serbaguna untuk mengecek berbagai area tubuh dengan cepat. Lebih lanjut, berikut kegunaan USG secara luas di dunia medis:
1. Mendeteksi Cedera Otot, Sendi, Tendon, dan Saraf
USG muskuloskeletal digunakan untuk melihat kondisi jaringan lunak yang sulit dilihat dengan jelas pada rontgen.
Pemeriksaan USG muskuloskeletal dinilai efektif dalam membantu diagnosis cedera sendi dan otot. Mulai dari mengidentifikasi robekan otot, peradangan tendon, cedera ligamen, penumpukan cairan pada sendi, hingga beberapa gangguan saraf tepi yang jadi penyebab nyeri atau kesulitan bergerak.
Pain and Therapy Journal menyebut, sensitivitas USG dalam mengidentifikasi cedera otot parah (grade I dan grade II) bisa mencapai 77%, lho. Sedangkan dalam identifikasi robekan tendon, tingkat deteksinya jauh lebih tinggi, hingga mencapai 88%.
Selain itu, USG juga mampu menunjukkan beda jenis cedera otot, mengevaluasi sumber komplikasi tertentu seperti miositis ossificans.
2. Mencari Penyebab Nyeri atau Gangguan pada Organ Dalam
Ketika seseorang mengalami nyeri perut yang tidak kunjung membaik, dokter sering memanfaatkan USG untuk mengecek kondisi organ di dalam rongga perut.
Melalui USG, dokter bisa mendeteksi berbagai masalah seperti batu empedu, batu ginjal, pembesaran hati, kista, hingga gangguan pada pankreas dan organ lainnya.
3. Memantau Kehamilan dan Kesehatan Janin
Ini dia fungsi USG yang paling familiar di benak masyarakat. Selama kehamilan, USG membantu dokter memantau tumbuh kembang janin, mendengarkan detak jantung, memeriksa posisi plasenta, hingga menilai jumlah air ketuban.
Selain itu, USG juga dapat membantu mendeteksi beberapa kelainan fisik pada janin sejak masa kehamilan. Jadi, penanganannya bisa dipersiapkan lebih awal.
4. Memeriksa Benjolan pada Tubuh
Siapa sih, yang tidak khawatir menemukan benjolan aneh di leher, payudara, atau area tubuh lain.
Setelah pemeriksaan fisik, biasanya dokter menyarankan USG untuk mengetahui jenis benjolan tersebut. Apakah berisi cairan (kista), jaringan padat, atau perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan diagnosisnya tepat secara menyeluruh.
5. Mengevaluasi Kondisi Jantung dan Aliran Darah
USG juga dimanfaatkan dalam prosedur ekokardiografi atau pemeriksaan jantung. Biasanya, pemeriksaan dilakukan untuk menilai kekuatan pompa jantung, kondisi katup jantung, serta aliran darah di dalam ruang jantung.
Salah satu prosedurnya yaitu USG Doppler yang menggunakan gel khusus di permukaan kulit untuk mendeteksi penyempitan, penyumbatan, varises, ataupun penggumpalan darah.
Oleh karena itu, USG sering menjadi bagian dari evaluasi pada pasien dengan keluhan sesak napas, nyeri dada, atau gangguan irama jantung.
Siapa yang Membutuhkan USG?
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa USG bukan hanya diperuntukkan bagi ibu hamil saja, ya. Siapa pun, baik anak-anak, remaja, hingga lansia bisa membutuhkan USG tergantung pada gejala dan kondisi yang dialami:
Orang yang merasakan nyeri otot, nyeri sendi, atau kesemutan yang tidak kunjung hilang dan dicurigai berkaitan dengan cedera jaringan lunak atau saraf terjepit.
Orang dengan keluhan nyeri perut, benjolan yang teraba, atau sesak napas yang perlu dievaluasi lebih lanjut.
Atlet atau orang biasa yang mengalami cedera dan ingin mengetahui kondisi tendon, ligamen, atau ototnya.
Penderita penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, atau kolesterol tinggi yang perlu pemantauan rutin pada organ dalam atau pembuluh darahnya.
Pasien yang membutuhkan panduan tindakan medis seperti biopsi, drainase cairan, atau injeksi kortikosteroid agar prosedurnya lebih akurat.
Siapa saja yang dirujuk dokter untuk evaluasi diagnostik awal sebelum menentukan langkah penanganan berikutnya.
Proses USG
1. Persiapan Sebelum USG
Tidak semua USG membutuhkan persiapan khusus, kok. Tergantung jenis pemeriksaannya:
USG perut: biasanya diminta puasa 4 hingga 6 jam sebelumnya agar gas di usus tidak mengganggu gambaran organ.
USG kandung kemih atau panggul: disarankan minum banyak air sebelumnya dan tidak pipis agar kandung kemih dalam kondisi penuh dan membantu visualisasi organ di sekitarnya.
USG muskuloskeletal, tiroid, atau payudara: umumnya tidak memerlukan persiapan khusus.
Dari sisi pakaian, sebaiknya pilih yang mudah dilepas atau dilonggarkan di area yang akan diperiksa.
2. Prosedur Pelaksanaan
Prosedur USG umumnya berlangsung antara 15 hingga 60 menit, tergantung jenis pemeriksaan. USG fetomaternal untuk skrining kondisi janin dan USG vaskular untuk cek pembuluh darah bisa memakan waktu 30 hingga 60 menit.
Pasien berbaring di meja pemeriksaan, lalu dokter spesialis radiologi akan mengoleskan gel konduktor ke permukaan kulit di area yang akan diperiksa. Gel berfungsi menghilangkan gelembung udara antara probe dan kulit, sehingga gelombang suara bisa menembus kulit dan jaringan dan menghasilkan gambar lebih jelas.
Probe kemudian digerakkan perlahan di atas area tersebut, dan gambar langsung muncul di layar secara real-time.
Pada USG muskuloskeletal, dokter biasanya akan meminta pasien untuk menggerakkan bagian tubuh tertentu selama pemeriksaan. Penilaian dinamis sangat penting untuk melihat kondisi tendon, ligamen, atau saraf saat bergerak.
Secara umum, USG tidak terasa sakit, kok. Kecuali jika area yang diperiksa sedang dalam kondisi meradang atau nyeri, tekanan probe bisa terasa tidak nyaman.
3. Cara Membaca Hasil USG
Hasil USG tampil dalam bentuk gambar hitam putih dengan berbagai gradasi abu-abu. Supaya mudah memahami hasil USG, kamu perlu tahu istilah yang sering muncul di lembar hasilnya:
Hiperekogenik: area yang lebih terang, menunjukkan jaringan padat seperti tulang, kalsifikasi, atau lemak.
Hipoekogenik: area abu-abu gelap, menunjukkan jaringan abnormal atau pembengkakan otot.
Homogen: struktur jaringan yang mirip, umumnya tanda jaringan yang sehat.
Nodul: benjolan atau massa kecil yang terdeteksi dalam jaringan.
Kista: kantung berisi cairan.
Konsultasi nyeri dan gangguan gerak dengan dokter spesialis saraf.
Kelebihan dan Kekurangan USG
Selain cepat dan murah, USG punya kelebihan dan keterbatasan yang perlu dipahami. Berikut rangkumannya dilansir dari Radiopaedia.org:
Kelebihan:
Tidak menggunakan radiasi, sehingga aman untuk ibu hamil, bayi, dan anak-anak.
Menghasilkan gambar secara real-time, termasuk gambar bergerak.
Relatif terjangkau dibandingkan MRI atau CT scan.
Tidak invasif dan tidak menyakitkan.
Portabel dan bisa dilakukan di berbagai tempat, termasuk di lapangan untuk atlet yang cedera.
Bisa digunakan sebagai panduan prosedur medis secara langsung.
Kekurangan:
Kualitas gambar kurang optimal pada pasien obesitas.
Tidak bisa menembus tulang atau jaringan yang banyak mengandung udara seperti paru-paru.
Hasilnya sangat bergantung pada pengalaman dan keahlian operator.
Untuk jaringan lunak tertentu, detail gambar tidak setajam MRI.
Kalau dokter merekomendasikan USG untuk keluhanmu, itu bukan pertanda kondisimu serius atau tidak, ya. Artinya, dokter ingin melihat lebih jelas sebelum mengambil keputusan yang tepat. Semakin detail informasi yang didapat dari pemeriksaan, semakin terarah penanganan yang bisa diberikan.
Di DRI Clinic, USG muskuloskeletal tersedia sebagai bagian dari proses evaluasi diagnostik untuk kondisi nyeri otot, cedera tendon, saraf kejepit, dan gangguan gerak lainnya. Tim kami yang terdiri dari Spesialis Saraf (Sp.N), Rehabilitasi Medis (Sp.KFR), dan Kedokteran Olahraga (Sp.KO) menggunakan hasil USG sebagai dasar untuk merancang program penanganan yang benar-benar sesuai dengan kondisimu demi terwujudnya #SatuSarafSehat.
FAQ Seputar USG
1. USG itu untuk apa saja?
USG merupakan pemeriksaan penunjang yang digunakan untuk memantau kehamilan, membantu mengevaluasi cedera otot, tendon, ligamen, saraf, benjolan, organ perut, jantung, hingga pembuluh darah.
Karena mampu menampilkan gambar secara langsung saat tubuh bergerak, USG juga sering digunakan untuk membantu mencari penyebab nyeri otot, kesemutan, atau gangguan gerak tertentu.
2. Penyakit apa saja yang bisa dilihat dari USG?
USG dapat membantu mendeteksi atau mengevaluasi berbagai kondisi medis, seperti:
Cedera otot, tendon, ligamen, dan beberapa gangguan saraf.
Batu ginjal dan batu empedu.
Kista atau benjolan pada berbagai bagian tubuh.
Gangguan hati, pankreas, dan organ perut lainnya.
Kelainan pada jantung dan aliran darah.
Gangguan pada kehamilan dan perkembangan janin.
Namun perlu dipahami, USG bukan alat untuk mendiagnosis semua penyakit. Pada kondisi tertentu, dokter mungkin tetap menyarankan pemeriksaan tambahan seperti rontgen, CT scan, MRI, atau tes laboratorium untuk memastikan diagnosis.
3. Lebih bagus rontgen atau USG?
Tidak ada yang lebih bagus secara mutlak karena keduanya memiliki fungsi yang berbeda.
USG: unggul untuk melihat jaringan lunak seperti otot, tendon, ligamen, saraf, organ dalam, dan pembuluh darah.
Rontgen: unggul untuk melihat struktur tulang, patah tulang, atau kelainan pada rangka tubuh.
Jadi, pemilihan USG atau rontgen tergantung pada keluhan dan bagian tubuh yang ingin dicek. Misalnya, cedera otot atau peradangan tendon biasanya lebih jelas terlihat dengan USG, sedangkan patah tulang lebih mudah terdeteksi dengan rontgen.
4. Sering USG bahaya atau tidak?
Tidak. USG termasuk pemeriksaan yang sangat aman dan dapat dilakukan berulang kali bila diperlukan.
Sumber:
Pain and Therapy. Advances in Musculoskeletal Ultrasound for Assistive Diagnosis in Pain Clinics. Diakses pada 2 Juni 2026.
Yale Medicine. Musculoskeletal Ultrasound. Diakses pada 2 Juni 2026.
Radiopaedia.org. Ultrasound (introduction). Diakses pada 2 Juni 2026.
