12 Jenis Penyakit Saraf: Gejala dan Penanganan

Beberapa penyakit saraf seperti saraf kejepit, migrain, stroke, Parkinson, hingga neuropati perifer sering berkembang perlahan dan kerap dianggap keluhan biasa. Padahal, gejala seperti kesemutan, nyeri menjalar, tremor, kelemahan otot, atau gangguan bicara bisa menjadi tanda saraf sedang bermasalah.


Artikel ini telah ditinjau oleh dr. Mesha Syafitra, AIFO-K, General Practitioner DRI Clinic.

 

Penyakit saraf merupakan salah satu masalah kesehatan yang banyak ditemui di sekitar kita.

Dikutip dari American Brain Foundation, sekitar 3,4 miliar orang atau 43,1% populasi dunia mengalami kondisi neurologis yang menyebabkan 11,1 juta kematian.

Padahal, sistem saraf merupakan jaringan tubuh yang mengatur koordinasi seluruh fungsi tubuh. Mulai dari cara kamu bergerak, berbicara, mengingat, merasakan emosi, hingga cara jantung berdetak dan paru-paru bernapas.

Ketika ada yang tidak beres pada salah satu bagian sistem saraf, dampaknya bisa menjalar ke fungsi tubuh secara luas. Mungkin gangguannya hanya terasa pada lutut, tapi efeknya bisa menyebabkan penderitanya kesulitan berjalan, tubuh lemas, hingga mati rasa.

Namun, banyak orang yang mungkin belum menyadari dirinya mengalami gangguan saraf. Sebab, sering kali gejalanya berupa rasa tidak nyaman karena kelelahan biasa, sehingga kerap diabaikan.

Supaya kamu lebih paham, yuk kenali berbagai macam gangguan saraf yang sering terjadi dan perlu diwaspadai.

Jenis Penyakit Saraf yang Paling Umum

Terdapat 12 jenis penyakit saraf yang banyak ditemukan di masyarakat, yaitu:

1. Saraf Kejepit (HNP)

saraf normal vs saraf kejepit pada sumsum tulang belakang

Sumber: awesthoustonchiropractor.com

Saraf kejepit atau Herniasi Nukleus Pulposus (HNP) adalah salah satu gangguan saraf yang paling banyak ditemui di masyarakat.

Saraf kejepit merupakan kondisi di mana bantalan lunak di antara ruas-ruas tulang bergeser keluar dari posisi dan menekan saraf di sekitar.

Banyak yang mengira saraf kejepit hanya dialami orang lanjut usia. Faktanya, usia 20-50 tahun juga bisa berisiko terkena penyakit ini, lho. Khususnya pada mereka yang keseringan duduk dalam jangka waktu lama tanpa peregangan, postur duduk buruk, hingga angkat beban dengan cara yang salah.

Saraf kejepit juga bisa terjadi di tulang belakang, pergelangan tangan, siku, otot bokong, kaki dan pergelangan kaki.

Gejala yang umum dirasakan:

  • Nyeri tajam yang menjalar dari punggung bawah ke kaki, atau dari leher ke lengan, tergantung di mana lokasi saraf yang terkena.

  • Sering kesemutan di area yang sama.

  • Mati rasa.

  • Kelemahan otot.

  • Nyeri yang memburuk saat duduk lama, membungkuk, atau batuk.

Penanganan:

Penanganan saraf kejepit menggunakan terapi yang bersifat holistik:

  • Istirahat dari aktivitas berat, namun tetap diimbangi peregangan dan olahraga ringan.

  • Spinal Decompression untuk menurunkan tekanan mekanis pada saraf.

  • Dry Needling untuk mengatasi ketegangan otot dan disfungsi jaringan lunak.

  • High Intensity Laser Therapy (HIL) untuk mendukung regenerasi jaringan dan mengontrol inflamasi.

  • TENS untuk memodulasi persepsi nyeri pada sistem saraf.

Konsultasi saraf kejepit dengan dokter spesialis saraf.

2. Migrain

Apakah kamu sering merasa tegang dan berdenyut di kepala sisi kanan atau kiri? Nah, bisa jadi apa yang kamu rasakan itu adalah gejala migrain.

Migrain merupakan peradangan pada pembuluh darah otak dan selaput pelindung otak yang disebabkan karena adanya aktivasi sistem trigeminovaskular pada otak, yang melepaskan sinyal yang berperan dalam serangan migrain. saraf trigeminal di otak mengalami hipersensitivitas

Migrain dialami oleh sekitar 14% penduduk di seluruh dunia setiap tahunnya. Paling banyak dari kalangan perempuan muda, salah satunya karena faktor hormonal yang mampu memicu risiko migrain hingga 3 kali lipat.

Ada banyak faktor yang bisa memicu migrain, mulai dari pola tidur tidak teratur, kurang tidur, sering terpapar stres.

Gejala yang umum dirasakan:

  • Nyeri berdenyut intens, biasanya di satu sisi kepala.

  • Mual, muntah, atau tidak nafsu makan.

  • Sangat sensitif terhadap cahaya dan suara.

  • Aura sebelum nyeri: gangguan penglihatan seperti kilatan cahaya, titik buta, atau sensasi kesemutan di wajah dan tangan.

  • Berlangsung 4 hingga 72 jam jika tidak ditangani.

Penanganan:

  • Beristirahat di ruangan yang gelap dan tenang saat serangan berlangsung.

  • Obat pereda nyeri seperti ibuprofen atau parasetamol untuk kasus ringan.

  • Identifikasi dan hindari pemicu pribadi: kafein berlebihan, kurang tidur, stres, atau makanan tertentu.

  • Untuk migrain kronis lebih dari 15 hari per bulan, dokter dapat mempertimbangkan terapi pencegahan.

3. Meningitis

Selain migrain, gangguan saraf pada kepala lainnya yaitu meningitis. Ini tergolong penyakit menular serius yang menyerang sekitar 2,3 miliar orang di seluruh dunia dan menyebabkan komplikasi hingga kematian.

Meningitis adalah peradangan pada meninges, yaitu selaput pelindung yang membungkus otak dan sumsum tulang belakang. Penyebabnya bervariasi, bisa karena infeksi bakteri, virus, atau jamur.

Di antara penyebab meningitis, menurut Boston Children's Hospital, meningitis bakterial lebih berbahaya karena bisa mengancam jiwa hanya dalam hitungan jam.

Yang perlu kamu waspadai, risiko tinggi penularan meningitis itu terjadi saat traveling (khususnya ke daerah yang banyak dikunjungi orang dari berbagai negara) dan diskusi grup dengan banyak orang.

Penyakit ini menyebar melalui kontak cairan tubuh seperti ketika berciuman, menggunakan sikat gigi atau alat makan yang sama, dan percikan ludah atau lendir.

Tidak heran ya, kalau setiap jamaah haji dan umrah diminta untuk vaksin meningitis lebih dulu, setidaknya sebulan sebelum keberangkatan.

Kelompok yang berisiko tinggi:

  • Bayi dan anak di bawah 5 tahun.

  • Remaja dan dewasa muda yang tinggal bersama banyak orang seperti di asrama atau barak.

  • Orang dengan sistem imun lemah (penderita HIV, pasca kemoterapi).

  • Mereka yang belum mendapat vaksinasi meningitis.

Gejala yang perlu diwaspadai:

Pada orang dewasa:

  • Demam tinggi yang datang tiba-tiba.

  • Sakit kepala sangat parah yang tidak seperti biasanya.

  • Kaku dan nyeri di bagian leher.

  • Sensitif terhadap cahaya dan suara.

  • Mual, muntah, dan kebingungan.

Pada bayi:

  • Demam tinggi disertai tangisan melengking yang tidak biasa.

  • Fontanel (ubun-ubun) yang menonjol atau tegang.

  • Tubuh yang terasa sangat kaku atau justru sangat lemas.

  • Ruam kemerahan atau keunguan yang tidak memudar saat ditekan (tanda darurat).

Penanganan:

  • Segera bawa ke IGD rumah sakit terdekat jika gejala muncul.

  • Penanganan medis meliputi stabilisasi kondisi pasien, pemberian medikamentosa seperti terapi definitif sesuai etiologi, simptomatik, serta terapi suportif lain sesuai gejala yang dialami.

Pencegahan:

  • Vaksinasi meningitis.

4. Stroke

tipe tipe stroke gangguan saraf

Sumber: TriHealth

Stroke terjadi ketika aliran darah di otak berkurang atau hilang, baik karena sumbatan maupun pecahnya pembuluh darah di otak.

Saat otak kekurangan oksigen, sel-sel saraf mulai mengalami kerusakan hanya dalam beberapa menit.

Itulah kenapa stroke termasuk kondisi darurat medis yang tidak boleh terlambat penanganannya.

Stroke juga termasuk penyakit saraf yang banyak dialami orang di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, stroke jadi penyebab 350 ribu kematian tiap tahun di Indonesia, menurut Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dante Saksono Harbuwono.

Banyak orang mengira stroke hanya menyerang lansia. Faktanya, risiko stroke juga bisa meningkat pada usia produktif, lho, terutama yang memiliki tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol tinggi, atau kebiasaan merokok.

Gejala yang umum dirasakan:

  • Wajah mendadak mencong atau tidak simetris.

  • Salah satu lengan atau kaki terasa lemah mendadak.

  • Bicara pelo, tidak jelas, atau sulit memahami obrolan.

  • Penglihatan mendadak kabur atau gelap.

  • Penurunan kesadaran.

  • Kehilangan keseimbangan secara tiba-tiba.

  • Sakit kepala hebat tanpa penyebab yang jelas.

Penanganan:

  • Segera ke IGD atau hubungi layanan darurat ketika gejala muncul.

  • Jangan menunggu gejala membaik sendiri.

  • Penanganan dini sangat penting untuk mencegah kerusakan otak yang lebih luas.

  • Setelah fase akut terlewati, rehabilitasi medis membantu memulihkan fungsi gerak, bicara, dan aktivitas sehari-hari.

  • Mengontrol tekanan darah, gula darah, berhenti merokok, dan rutin bergerak membantu menurunkan risiko stroke.

5. Carpal Tunnel Syndrome (CTS)

Pernah dengar penyakit satu ini?

Carpal Tunnel Syndrome atau CTS adalah kondisi ketika saraf median (salah satu saraf utama) di pergelangan tangan mengalami tekanan.

CTS sering dialami oleh orang yang melakukan gerakan tangan berulang dalam waktu lama. Misalnya mengetik, menggunakan mouse, menjahit, atau pekerjaan produksi.

Karena itu, cukup banyak pekerja kantoran maupun pekerja dengan aktivitas tangan yang repetitif setiap hari seperti penjahit, pekerja garmen, pekerja pabrik, hingga musisi yang mengalami CTS.

Gejala yang umum dirasakan:

  • Kesemutan dan mati rasa di ibu jari, telunjuk, jari tengah, dan sebagian jari manis.

  • Nyeri di pergelangan tangan yang bisa menjalar sampai lengan.

  • Tangan terasa lemah saat menggenggam benda.

  • Gejala sering memburuk saat malam hari atau setelah aktivitas tangan yang lama.

  • Pada kondisi yang lebih berat, otot di pangkal ibu jari bisa mengecil.

Penanganan:

  • Mengurangi aktivitas yang memperberat tekanan pada pergelangan tangan.

  • Menggunakan wrist splint atau penyangga tangan, terutama saat tidur.

  • Fisioterapi untuk membantu meregangkan dan memperkuat otot tangan.

  • Obat antiinflamasi atau injeksi tertentu untuk membantu mengurangi peradangan.

  • Pada kasus yang berat, operasi dapat dipertimbangkan untuk mengurangi tekanan pada saraf median.

Baca Juga: Apa Itu Saraf? Jenis, Fungsi, dan Gangguan

6. Epilepsi

Epilepsi adalah gangguan saraf kronis yang menyebabkan kejang berulang akibat aktivitas listrik di otak yang tidak berjalan normal.

Kejang pada epilepsi bisa sangat bervariasi bentuknya. Mulai dari yang tampak dramatis seperti seluruh tubuh bergetar dan kehilangan kesadaran, hingga yang terlihat sangat halus seperti tatapan kosong selama beberapa detik.

Menurut Lancet Public Health, lebih dari 51,7 juta orang di seluruh dunia yang mengidap epilepsi aktif. Sekitar 80% di antaranya tinggal di negara berkembang dan berpenghasilan rendah.

Epilepsi bisa dialami siapa saja, mulai dari anak-anak hingga lansia. Untungnya, penderita epilepsi bisa sembuh dari kejang jika mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Gejala yang umum dirasakan:

  • Kejang atau gerakan tubuh yang sulit dikendalikan.

  • Tiba-tiba hilang kesadaran.

  • Tatapan kosong dan tidak merespons sesaat.

  • Kebingungan setelah kejang.

  • Sensasi aneh sebelum kejang seperti deja vu, mencium bau tertentu, atau rasa takut mendadak

Penanganan:

  • Saat kejang terjadi, posisikan tubuh di tempat aman dan miringkan kepala ke satu sisi.

  • Jangan memasukkan benda apa pun ke dalam mulut penderita

  • Jangan menahan gerakan tubuh secara paksa.

  • Segera ke rumah sakit jika kejang berlangsung lebih dari 5 menit atau terjadi untuk pertama kali.

  • Pengobatan epilepsi umumnya menggunakan obat antikejang untuk membantu mengontrol aktivitas listrik otak.

7. Alzheimer dan Demensia

Banyak yang mengira Alzheimer sama dengan demensia.

Alzheimer sendiri merupakan penyakit neurodegeneratif pada otak dan termasuk jenis demensia. Alzheimer disebabkan oleh penumpukan protein abnormal pada otak yang menyebabkan penurunan fungsi kognitif yang memburuk.

Sedangkan demensia adalah kumpulan gejala yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk mengingat, berpikir, dan melakukan aktivitas sehari-hari.

Baik Alzheimer dan demensia, gejala awalnya sering disalahpahami sebagai faktor usia dan penuaan, seperti sering lupa menaruh barang atau sangat sulit mengingat nama.

Padahal, tanda-tanda awal Alzheimer bisa jauh lebih spesifik, lho. Misalnya sering tersesat di tempat yang sudah dikenal, sulit mengikuti obrolan bersama, atau perubahan kepribadian drastis.

Penanganan:

  • Belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan Alzheimer sepenuhnya.

  • Beberapa terapi dan obat dapat membantu memperlambat perkembangan gejala.

  • Aktivitas yang merangsang otak seperti membaca, bermain teka-teki, dan interaksi sosial membantu menjaga fungsi kognitif.

  • Dukungan keluarga yang aman.

  • Pemeriksaan dini membantu penanganan menjadi lebih optimal.

8. Parkinson

Parkinson juga termasuk salah satu penyakit saraf yang banyak ditemukan di masyarakat seperti alzheimer dan demensia.

Parkinson adalah penyakit degeneratif pada sistem saraf yang memengaruhi kemampuan tubuh dalam mengontrol gerakan. Kondisi ini terjadi karena sel saraf penghasil dopamin di otak rusak secara perlahan.

Banyak yang menganggap Parkinson hanya sebagai penyakit tangan gemetar. Namun, gejalanya bisa berkembang lebih luas, meliputi:

  • Tremor atau gemetar, biasanya dimulai dari satu tangan

  • Gerakan menjadi lebih lambat dari biasanya

  • Otot terasa kaku dan sulit digerakkan

  • Gangguan keseimbangan dan postur tubuh membungkuk

  • Tulisan tangan mengecil atau suara melemah

  • Gangguan tidur dan penciuman yang menurun

Penanganan:

  • Fisioterapi membantu menjaga kekuatan otot, fleksibilitas, dan keseimbangan tubuh.

  • Terapi wicara membantu mengatasi gangguan bicara dan menelan.

  • Olahraga rutin terbukti membantu memperlambat perkembangan gejala.

  • Obat-obatan seperti levodopa membantu meningkatkan kadar dopamin di otak.

9. Neuropati Perifer

Pernah merasa kaki atau tangan sering kesemutan, seperti terbakar, atau mati rasa tanpa sebab yang jelas? Bisa jadi itu merupakan tanda neuropati perifer.

Neuropati perifer adalah kerusakan pada saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang, sehingga sinyal dari otak ke tubuh jadi terganggu.

Kondisi ini paling sering dialami oleh penderita diabetes dengan gula darah tidak terkontrol. Namun, kekurangan vitamin B, konsumsi alkohol berlebihan, hingga penyakit autoimun juga bisa menjadi pemicunya.

Gejala yang umum dirasakan:

  • Kesemutan atau mati rasa yang dimulai dari ujung jari tangan dan kaki.

  • Nyeri seperti terbakar, tertusuk, atau tersengat listrik.

  • Kulit menjadi sangat sensitif terhadap sentuhan.

  • Otot terasa lemah, terutama di area kaki.

  • Luka di kaki yang tidak terasa sakit, khususnya pada penderita diabetes.

Penanganan:

  • Mengontrol penyebab utamanya, terutama kadar gula darah.

  • Memenuhi kebutuhan vitamin B jika terjadi kekurangan nutrisi.

  • Obat pereda nyeri saraf sesuai anjuran dokter.

  • Fisioterapi untuk menjaga kekuatan otot dan keseimbangan tubuh.

  • Pemeriksaan rutin kaki pada penderita diabetes untuk mencegah luka yang tidak disadari.

10. Multiple Sclerosis (MS)

Multiple Sclerosis atau MS adalah penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem imun tubuh menyerang mielin atau lapisan pelindung saraf.

Akibatnya, sinyal dari otak ke tubuh jadi terganggu, melambat, atau bahkan terputus sama sekali. MS paling sering muncul pada usia muda produktif, terutama perempuan usia 20 hingga 40 tahun.

Gejala MS mirip seperti efek kelelahan biasa, sehingga kondisinya cukup sulit dikenali, seperti:

  • Tubuh terasa sangat lelah meski tidak banyak beraktivitas.

  • Penglihatan kabur atau terasa nyeri saat menggerakkan mata.

  • Kesemutan dan mati rasa di wajah, tangan, atau kaki.

  • Kelemahan otot dan tubuh terasa kaku.

  • Gangguan keseimbangan dan koordinasi.

  • Gangguan buang air kecil.

Penanganan:

  • Obat untuk bantu memperlambat perkembangan penyakit dan mengurangi kekambuhan.

  • Kortikosteroid saat gejala kambuh berat.

  • Fisioterapi dan terapi okupasi untuk bantu mempertahankan fungsi gerak.

  • Menjaga pola hidup sehat, tidur cukup, dan olahraga ringan secara rutin.

11. Bell's Palsy

Selanjutnya ada Bell’s Palsy, yaitu kondisi saat wajah terlihat mencong atau turun di satu sisi, sehingga sering disalahpahami sebagai stroke.

Bedanya dengan stroke, Bell’s palsy disebabkan karena gangguan pada saraf wajah lokal, bukan karena gangguan aliran darah ke otak.

Nama Bell’s Palsy diambil dari ahli anatomi dan bedah Sir Charles Bell, dokter asal Skotlandia yang pertama kali meneliti tentang saraf wajah dan gejala kelumpuhan otot wajah.

Gejala Bell’s Palsy sendiri bisa muncul tiba-tiba dan bisa berkembang hanya dalam hitungan jam. Untungnya, kondisi ini bisa membaik dalam beberapa minggu hingga bulan tanpa operasi.

Gejala yang umum dirasakan:

  • Satu sisi wajah terasa lemah atau sulit digerakkan.

  • Sulit menutup mata di sisi wajah.

  • Senyum terlihat tidak simetris.

  • Nyeri di sekitar telinga atau rahang.

  • Jadi lebih sensitif terhadap suara.

  • Mata terasa kering atau berair berlebihan.

Penanganan:

  • Kortikosteroid paling efektif jika diberikan dalam 72 jam pertama.

  • Fisioterapi wajah bantu melatih otot agar aktif kembali.

  • Pelindung dan pelumas mata untuk mencegah mata kering.

  • Tetap perlu pemeriksaan dokter untuk memastikan gejala bukan disebabkan stroke.

12. Neuralgia Trigeminal

Terakhir ada Neuralgia trigeminal, yaitu gangguan saraf yang menyebabkan nyeri hebat di area wajah. Nyeri yang muncul sering terasa seperti tersengat listrik, tertusuk benda tajam, atau tersayat secara tiba-tiba.

Nyeri Neuralgia Trigeminal bisa muncul bahkan hanya karena aktivitas sederhana seperti berbicara, mengunyah, menyikat gigi, bahkan terkena angin.

Meski berlangsung singkat, nyerinya bisa berulang berkali-kali dalam sehari dan sangat menguras energi penderitanya.

Gejala yang umum dirasakan:

  • Nyeri tajam mendadak di satu sisi wajah.

  • Sensasi seperti sengatan listrik.

  • Serangan berlangsung beberapa detik hingga menit.

  • Dipicu sentuhan ringan atau aktivitas ringan di area wajah.

  • Nyeri biasanya muncul di area pipi, rahang, gusi, atau bibir.

Penanganan:

  • Obat antinyeri saraf untuk membantu mengurangi frekuensi serangan.

  • Penanganan dokter spesialis saraf penting untuk menentukan terapi yang paling sesuai.

  • Semakin cepat ditangani, semakin besar peluang nyeri bisa terkontrol dengan baik.

Dari 12 kondisi di atas, beberapa di antaranya seperti saraf kejepit, migrain, neuropati perifer, dan carpal tunnel syndrome adalah contoh penyakit saraf yang paling banyak ditemui di kehidupan sehari-hari. Sementara kondisi lain seperti stroke dan meningitis membutuhkan penanganan darurat.

Kapan Sebaiknya ke Dokter?

Hampir semua gangguan saraf punya peluang penanganan yang jauh lebih baik jika segera dikenali. Jika kondisi atau gejalanya tidak kunjung membaik atau menjalar ke anggota tubuh lain, segera konsultasikan ke dokter spesialis saraf DRI Clinic untuk penanganan yang terarah.

DRI Clinic adalah klinik spesialis nyeri dan gangguan gerak yang menangani keluhan secara menyeluruh. Kami bekerja dengan pendekatan Neuromed-First bersama Spesialis Saraf (Sp.N), Rehabilitasi Medis (Sp.KFR), dan Kedokteran Olahraga (Sp.KO) yang menilai saraf, otot, dan pola gerak untuk menemukan dan menangani akar masalah setiap pasien. Konsultasikan kondisimu untuk mendapat perawatan terbaik demi #SatuSarafSehat dan hari yang selalu produktif.

Sumber:

  • American Brain Foundation. The Global Prevalence of Brain Disease. Diakses 25 Mei 2026.

  • The Egyptian Journal of Neurology, Psychiatry and Neurosurgery. Prevalence, triggers, and impact of migraine on university students: a scoping review. Diakses 25 Mei  2026.

  • Meningitis Research Foundation. About Meningitis. Diakses 25 Mei 2026.

  • Boston Children’s Hospital. Bacterial Meningitisi. Diakses 25 Mei 2026.

  • The Lancet Public Health. Global, regional, and national burden of epilepsy, 1990–2021: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2021. Diakses 25 Mei 2026.